Ternyata 11 WNI yang di Marawi Bukan Anggota ISIS, Tapi Anggota Jamaah Tabligh... Asal Pakai Gamis Saja Disebut ISIS, Akalnya Nggak Sehat
Kabarkabari.id -
Kementerian Luar Negeri menyatakan, 11 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Marawi, Filipina, bukan anggota ISIS dan tidak terlibat dalam insiden baku tembak antara tentara dan kelompok bersenjata di kota itu.
"Mereka ini adalah anggota Jamaah Tabligh yang melakukan khuruj, berdakwah selama 40 hari, di Filipina. Kebetulan markas JT di Filipina ada di Marawi," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, Senin (29/05/2017).
Iqbal mengatakan, aparat keamanan Filipina mengetahui keberadaan ke-11 WNI itu karena sudah mendapat laporan mengenai kehadiran mereka.
Pemerintah Indonesia sedang berupaya memulangkan ke-11 WNI yang kini berada di Kota Marawi ke Tanah Air.
Selasa pekan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di Mindanao, menyusul baku tembak antara tentara Filipina dan kelompok bersenjata di Kota Marawi.
Media lokal Filipina mewartakan, baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon. Kelompok Maute merespon rencana penahanan itu dengan menyerbu Kota Marawi.
Status darurat militer tersebut diharapkan tidak berdampak terhadap keselamatan tujuh WNI yang saat ini masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, kata Iqbal.
Sumber: rimanews
![]() |
| ilustrasi |
"Mereka ini adalah anggota Jamaah Tabligh yang melakukan khuruj, berdakwah selama 40 hari, di Filipina. Kebetulan markas JT di Filipina ada di Marawi," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, Senin (29/05/2017).
Iqbal mengatakan, aparat keamanan Filipina mengetahui keberadaan ke-11 WNI itu karena sudah mendapat laporan mengenai kehadiran mereka.
Pemerintah Indonesia sedang berupaya memulangkan ke-11 WNI yang kini berada di Kota Marawi ke Tanah Air.
Selasa pekan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di Mindanao, menyusul baku tembak antara tentara Filipina dan kelompok bersenjata di Kota Marawi.
Media lokal Filipina mewartakan, baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon. Kelompok Maute merespon rencana penahanan itu dengan menyerbu Kota Marawi.
Status darurat militer tersebut diharapkan tidak berdampak terhadap keselamatan tujuh WNI yang saat ini masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, kata Iqbal.
Sumber: rimanews

Post a Comment