Hayo......Robert Endi Jaweng Sebut Dana Desa Bisa Jadi Alat Politik PDIP Atau PKB, Ini Alasanya
![]() |
| ilustrasi |
Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksana Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng melihat ada dua permasalahan yang saat ini menghinggap dalam kebijakan dana desa. Dimana menurutnya, masalah yang paling krusial ialah pemanfaatan kebijakan tersebut sebagai alat politik.
“Ketika satu urusan dipecah-pecah, ada aturan Mendes, Mendagri, Menkeu, yang satu sama lain tidak sinkron. (Seharusnya) seluruh urusan desa di bawah satu tata kelola. Kedua, lebih celaka lagi kalau jadi alat politik. Tahu sendiri, desa bisa menjadi basis kampanye,” kata Robert dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Dana Desa untuk Siapa?’ di Cikini, Jakarta, Sabtu (19/8).
Indikasi permainan politik dalam kebijakan dana desa sebetulnya sudah tercium oleh anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera.
Politikus PKS ini mengklaim pernah menyarankan Marwan Jafar, saat menjabat sebagai Menteri Pedesaan, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, agar memberikan seluruh kewenangan pengelolaan dan pengawasan dana desa kepada Kementerian Dalam Negeri.
“Pertama, sejak awal sebelum UU dibentuk, saat itu berharap kalau desa dapat dana dari APBN, di terminal-kan, pengawasannya saja. Kedua, masalah penggunaan tolong jangan diatur-atur lagi. Serahkan ke desa saja dan dia bisa laporkan. Sejak Marwan Jafar (jadi Mendes) saya usulkan satu pintu saja, legowo lah lepasin itu biar urusan bisa enak.”
Seperti diketahui, polemik kebijakan dana desa masih berkutat pada persoalan kewenangan pengelolaan dan pengawasan antara Kemendes PPDT selaku penyedia anggaran dengan Kemendagri selaku pengelola anggaran.
Dua Kementerian itu memang dipimpin oleh menteri dengan partai berbeda. Mendes PPDT sejak Joko Widodo menjadi Presiden selalu ditempati oleh politikus PKB, sedangkan Mendagri belum tergantikan yakni Tjahjo Kumolo dari PDI-P.
sumber: aktual
Kabarkabari.id

Post a Comment