Header Ads

Jangan Anggap Enteng! Ketika Si Kecil Merasa Nyaman dengan Benda Kesayangan

ilustrasi


Menjelang tidur, Nia (9) selalu menggenggam secarik kain yang tampaknya sudah lusuh. Sesekali diusapkannya kain itu ke hidungnya. Murid kelas 3 SD di Tangerang ini terlihat nyaman dan tentram, lalu sebentar kemudian ia pun tertidur lelap, masih menggenggam kain tersebut yang ternyata adalah kaus dalamnya yang sudah tak terpakai. Tak hanya di rumah, menginap di mana pun Nia selalu membawa-bawa kaus itu.



Ibunda Nia berkali-kali berusaha memisahkan kaus dalam itu dari anaknya, tapi alhasil Nia malah uring-uringan, tak bisa tidur tanpa kaus usang kesayangannya. Akhirnya ia membiarkan saja kebiasaannya anaknya, dengan harapan kelak Nia juga akan melepaskan sendiri kaus itu. Sesekali ia mencuci kaus yang sudah bolong-bolong itu ketika Nia pergi sekolah.



Memenuhi rasa aman

Kebiasaan ini, menurut Devi Ayutya Wardhani, M.Psi, psikolog anak pada Optima Psychology, wajar terjadi pada masa perkembangan balita yang sedikit-sedikit mulai lepas dari hubungan yang sangat intens dengan ibunya. “Pada masa bayi, kedekatan seorang anak dengan ibunya itu sangat intens. Lalu, saat ia mulai bisa berjalan, mulai bersosialisasi dengan orang luar, maka sedikit-sedikit dia mulai lepas dari ibunya,” ungkap ibu 3 anak ini. Kenyamanan dan rasa aman yang selama ini didapatnya dari sang ibu mau tak mau dirasakannya semakin berkurang intensitasnya sesuai perkembangan dirinya. Dalam kondisi ini hadirlah benda-benda kesayangan yang memberi rasa nyaman dan aman sebagai pengganti kenyamanan yang diberikan ibu.

Kedekatan seorang anak dengan benda-benda kesayangan ini – seperti selimut butut, guling atau bantal bayi, boneka dan lain sebagainya – kata Devi bisa juga terjadi karena kebutuhan rasa nyaman dan aman yang dibutuhkan mereka tidak terpenuhi oleh lingkungannya. Mungkin kedekatan orangtua, pengganti orangtua atau pengasuh belum dirasa cukup bagi anak tersebut.

Memang, kata Devi, soal penyebabnya beragam sekali dan harus dilihat kasus per kasus. “Karena anak tumbuh bukan cuma dipengaruhi oleh lingkungan atau nurture. Dia tumbuh juga berdasarkan nature, apa yang dibawanya sejak lahir dan yang dipengaruhi oleh gennya. Bahkan dalam satu keluarga yang anak-anaknya dibesarkan dalam lingkungan yang sama pun masing-masing bisa tumbuh secara berbeda,” urai konsultan di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini.  Si kakak tak punya benda kesayangan, namun si adik yang juga dibesarkan dengan perlakuan yang sama oleh orangtua yang sama, ternyata memerlukan benda kesayangan yang memberinya rasa nyaman dan aman, contoh Devi.

Kasus kelekatan anak dengan benda-benda kesayangan ini memang masih terbilang wajar karena kasus seperti ini banyak terjadi. Kadar kelekatannya pun beragam, misalnya si A lekat sekali, sementara si B agak lekat. Jadi yang pasti kebiasaan ini tak bisa disebut sebagai penyimpangan, penyakit dan sebagainya.

Namun, kebiasaan ini wajar saat anak berusia 2 – 5 tahun. Masa-masa ini adalah masa transisi seorang anak dari bayi dengan dunia yang terbatas menuju masa anak-anak dengan dunia yang lebih luas. Benda-benda itu diperlukan untuk mengatasi kegamangannya. “Kalau bayi kan mungkin yang dilihatnya cuma selimut atau jempolnya (hingga ia suka mengemut jempol – red).  Nah, kalau sudah duduk lingkungannya kan lebih besar, tak hanya selimut, namun juga ada bola, ada mobil-mobilan. Ketika sudah bisa berdiri lalu berjalan, lingkungannya lebih besar lagi, ada sepeda, maka bola dan selimut pun terlupakan,” papar Devi yang menyelesaikan S2 pada Fakultas Psikologi UI tahun 2007 ini.

Pada usia di atas 5 tahun ke atas, anak-anak sudah bisa bersosialisasi dengan Saat Si Kecil Merasa Nyaman dengan Benda Kesayangan


Lingkungannya dan punya teman-teman untuk bermain. Bermain tentu mengasyikkan buat anak dan membuatnya nyaman. Kalau pun dia merasa tidak nyaman, ia bisa mengomunikasikan perasaannya pada orangtua atau orang-orang di sekelilingnya karena anak usia di atas 5 tahun sudah bisa berkomunikasi dengan baik. Hingga benda-benda kesayangan yang lekat dengannya pun tidak diperlukan lagi.

Di atas usia 5 tahun bila anak masih amat lekat dengan benda kesayangannya hingga tak bisa dipisahkan kemana pun ia pergi, maka kemungkinan si anak punya masalah yang perlu diatasi. Mungkin si anak tidak percaya pada lingkungannya. Dia merasa lingkungannya tidak memberi rasa aman dan kenyamanan padanya hingga hanya dengan benda-benda kesayangan itulah ia merasakan kenyamanan dan keamanan. Bila tak segera diatasi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang pemalu dan tidak percaya diri yang bisa terbawa sampai besar.  

Kelekatan pada benda kesayangan dalam batas tertentu memang masih wajar. Namun kecenderungan semacam ini sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal, bahkan dari masa kandungan. Pada masa-masa itu kedekatan ibu dengan calon anak bisa sudah bisa dijalin, misal dengan elusan, diajak bicara dan sebagainya. Kalau dia sudah lahir, variasikanlah benda-benda yang digunakannya, misalnya popok atau selimutnya, jangan hanya satu jenis, hingga ia tak tergantung pada suatu benda tertentu. Kelekatan dengan orangtua mutlak harus pula dibangun seoptimal mungkin.

Lepaskan perlahan

Sesuai batas usia kewajaran, yaitu 2 – 5 tahun, anak-anak ini jangan dipaksa untuk cepat lepas dari benda kesayangannya. Lakukan sedikit demi sedikit, secara bertahap. Misalnya batasi sampai di mana anak diperkenankan membawa benda kesayangannya. Jelaskan pada anak bahwa dia hanya boleh membawa-bawa benda tersebut hanya di kamarnya saja, tak boleh dibawa ke luar. Ganti sesekali benda itu dengan duplikatnya atau benda sejenis hingga ia tidak terlalu tergantung pada satu benda tersebut.

Atau pisahkan benda tersebut dari anak dengan alasan akan dicuci atau dibersihkan. Sekalian juga ajak anak mencuci benda tersebut. Selain mengenalkan kebersihan juga membangun kerekatan anak dengan orangtua hingga memberi rasa nyaman bagi dirinya.

Yang tak boleh ditinggalkan dalam masa pelepasan kebiasaan itu adalah        membangun kedekatan dengan anak dengan lebih baik. “Peluk, usap dan bicaralah dengan kasih sayang pada anak, hingga dengan begitu dia mengerti bahwa orangtuanya selalu menyayangi dirinya,” kata Devi. Anak akhirnya bisa merasa bahwa ia bisa bicara kapan saja dengan orangtuanya tentang perasaannya, termasuk tentang ketidaknyamannya, hingga kemudian ia merasa tak memerlukan lagi benda kesayangannya selama ini.

Jangan pernah memaksa anak meninggalkan kebiasaan itu, apalagi bila disertai dengan bentakan, merebut benda kesayangannya, atau bahkan mencubitnya. Perilaku orangtua ini justru akan menambah rasa ketidaknyamanannya saat bersama dengan orangtua.

Bila anak sudah di atas 5 tahun kenalkan anak pada teman-teman sebayanya, apalagi biasanya anak seusia itu sudah mulai bersekolah. “Suruh mereka main. Ketika dia main dia akan lupa dengan selimut kesayangannya,” ujar wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam. Bermain bersama teman sebaya jelas akan mengasah kemampuannya berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mengekspresikan perasaannya.

Dengan kesungguhan dan kasih sayang orangtua, si kecil akan bisa lepas dari ketergantungannya dengan benda kesayangannya. Pastikan Anda menjadi orangtua yang menyediakan keamanan dan kenyamanan bagi anak hingga anak-anak tak berpaling pada selimut butut, bantal kempes, atau boneka bau sebagai pengganti Anda.

sumber: ummionline
Kabarkabari.id

No comments