Header Ads

Tolong Diperhatikan! Berkompetisi (Jangan) Sejak Kecil

ilustrasi


Dalam satu lomba mewarnai yang diadakan di sebuah taman kanak-kanak di Jakarta, Keisha (4) menjadi pemenang untuk kelas A. Hasil mewarnai gadis kecil berambut ikal ini memang tampak rapi dan diselesaikan dengan cepat. Ia mendapat hadiah untuk prestasinya ini.

Di sudut lain, seorang teman Keisha tampak sedih bahkan hampir menangis karena tak memenangkan lomba itu dan tidak mendapatkan hadiah. Sang ibu menghiburnya dengan kata-kata yang lembut, “Enggak apa-apa, Nak. Warna-warna gambarmu udah bagus, kok. Malah lebih bagus daripada biasanya. Lain kali, insya Allah kamu bisa menang.” Anak itu memang terhibur lalu menghambur bermain kembali bersama teman-temannya.


Saat yang tepat untuk berkompetisi

Persaingan hidup yang semakin berat dari waktu ke waktu menuntut setiap orang untuk memiliki jiwa juang dan semangat pantang menyerah. Maka semangat untuk berjuang ini memang harus ditumbuhkan sejak kanak-kanak, antara lain melalui kompetisi-kompetisi yang sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Kompetisi itu antara lain diperlukan untuk menumbuhkan semangat struggle of superiority(memperjuangkan keunggulan – red),” kata Rahmi Dahnan, psikolog dan trainer pada Yayasan Kita dan Buah Hati.

Namun, ditekankan Rahmi, sangat penting untuk mempertimbangkan usia yang cocok bagi anak untuk diikutkan dalam berbagai kompetisi. “Saat yang tepat itu dimulai dari usia SMP, bukan usia SD, apalagi TK,” tegasnya.

Karena itulah, menurut Rahmi kompetisi atau berbagai lomba bagi anak usia SD dan TK, terutama di kelas atau di sekolahnya, bentuk terbaiknya adalah penghargaan atau honor. “Penghargaan ini sifatnya rolling (bergilir—red) dan aspeknya juga beda-beda, bukan misalnya matematika saja. Contohnya, pilih anak yang paling sopan minggu ini, anak yang paling wangi minggu ini, anak yang paling rajin membaca buku minggu ini,” contoh ibu empat anak ini.

Rahmi juga menyarankan agar pada usia TK anak tak dilibatkan pada lomba-lomba yang menuntut kemampuan khusus. “Pada masa-masa ini mereka baru mulai dengan rasa percaya diri dan keberanian diri mereka, sehingga belum sampai kepada perlombaan-perlombaan yang membutuhkan kemampuan. Kalau mewarnai itu saya rasa belum waktunya karena itu bukan kemampuan yang diharapkan dari anak usia TK. Masih terlalu tinggi buat mereka,” paparnya.

Kalaupun ingin mengadakan lomba untuk anak usia TK, sebaiknya yang sifatnya mengembangkan self skill mereka, seperti lomba mengancingkan baju, memakai kaus kaki, memakai sepatu dan sejenisnya. Yang penting bukan lomba yang sifatnya adu kemampuan.

Untuk anak usia SD pun sebenarnya tak jauh berbeda. Semestinya yang diberlakukan kepada mereka sifatnya masih penghargaan atau honor tadi. Ini memungkinkan setiap anak mendapatkan penghargaan untuk kemampuan yang masing-masing mereka miliki.

Perlakuan ini sesuai dengan konsep multiple intelligences (kecerdasan majemuk) yang memandang setiap anak istimewa dengan kemampuannya masing-masing. Bisa jadi seorang anak yang tak cukup pandai matematika ternyata kemampuan menggambar atau menarinya sangat bagus. Maka untuk bidang seni ini semestinya ia juga mendapat penghargaan.

“Jadi guru itu memang harus tahu bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak sama satu sama lain. Ini memang jadi tugas tambahan guru untuk mengenali karakteristik setiap muridnya. Guru harus tahu betul, misalnya si A bagusnya di matematika, si B bagus di sejarah, si C di seni dan sebagainya. Sehingga tidak ada anak yang jelek, semuanya bagus sesuai dengan kemampuannya,” terang Rahmi yang menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Atas kesadaran inilah memang kemudian dihapuskan sistem ranking atau peringkat kelas. Karena dalam buku rapor tak bisa dijelaskan kemampuan anak di luar bidang studi yang tertera di situ. Nilai-nilai di situ hanyalah catatan nilai atas, misalnya, kemampuan matematika, bahasa, dan lain-lain. Padahal bisa jadi si anak itu pandai melukis, pandai menyanyi, pandai berpidato atau berolahraga, yang tak berpengaruh banyak pada nilai di rapor. Atau si anak ternyata anak yang rajin, pandai bergaul, disenangi teman dan gurunya. Tentu saja kelebihan ini tak ada nilainya dalam rapor. Semestinya untuk kelebihan ini anak mendapat penghargaan pula pada bidang-bidang tersebut. “Jadi dengan demikian, setiap anak mendapat piagam sesuai bakat dan minatnya masing-masing,” imbuh Rahmi.
                                 

Nilai-nilai dalam kompetisi

Meski demikian, nilai-nilai dalam kompetisi sendiri sesungguhnya baik buat anak. Yang utama dalam pandangan Rahmi adalah struggle (daya juang) tadi. Sebelum bertanding si anak dibimbing untuk berlatih dan berusaha keras. Begitu pun selama lomba berlangsung, anak dituntut untuk berjuang mengerahkan yang terbaik.

Lalu setelah lomba selesai, pelajaran lain yang bisa diajarkan adalah bagaimana merasakan kemenangan atau kekalahan sekaligus juga menerimanya dengan cara yang benar. Kalau ia menang, ia akan mengerti perasaan senang karena kemenangan tadi. Sementara kalau ia kalah, ia bisa merasakan rasa sedih karena kekalahan itu dan karena tidak dapat hadiah. Tugas orangtualah untuk mengenalkan perasaan-perasaan itu pada anak sekaligus menerima dan mengatasinya. “Jelaskan arti perasaan itu dengan kata-kata yang mudah dipahami anak. Sehingga ia mengerti perasaan saat kalah, misalnya, tapi mampu menyalurkannya dengan baik. Bukan kalau kalah langsung menangis dan meronta-ronta,” kata Rahmi.

Pada saat yang sama pula orangtua bisa mengajarkan pada anak tentang makna ketetapan dari Allah. Sesungguhnya tugas manusia hanyalah berusaha, hasil akhirnya serahkan saja kepada Allah.

Bimbingan dan arahan orangtua di sini memang amat diperlukan anak, hingga mereka merasa orangtua bisa memahami mereka. Jangan sampai orangtua malah memaksakan ambisi-ambisi pribadi mereka pada anak, misalnya mereka harus memenangkan lomba ini atau lomba itu. Kalau kalah, orangtua yang marah. Rahmi memperingatkan, “Ini contoh yang buruk bagi anak. Pahamilah bahwa anak ini bagus dan akan berkembang dengan baik di bidang yang ia kuasai. Jangan memaksakan kehendak orangtua saja. Ini akan menjadi beban tersendiri bagi anak-anak hingga bisa merusak mental dan harga diri anak yang bisa berefek buruk pada masa depan anak.”

Jadi bijaksanalah untuk mengikutsertakan anak pada suatu perlombaan tertentu. Jangan sampai memaksakan anak untuk mengikutinya, padahal ia tak mau. Apalagi memberinya beban agar memenangkan lomba itu. Cermati juga kemampuan masing-masing anak yang memang unik hingga kalau pun ia mengikuti kompetisi tersebut ia bisa mendapat penghargaan yang semestinya.

sumber: ummionline
Kabarkabari.id

No comments